Kamis, 06 November 2025

[Review] Sepatu Berkucing (Bootsy Puss)



Penulis: Djokolelono
Ilustrator: Ella Elviana
Editor: Agnes Vidita
Pengalih Bahasa: Muhammad Fahmi Lubis
Pengisi Suara: Naulia Zahra
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2025
ISBN: 978-623-04-2322-2
Format: Hardback 
Harga: Rp119.000 (Harga Pulau Jawa)

Seekor kucing oren bernama Moza selamat dari kecelakaan. Lalu Moza tinggal bersama keluarga Raihan dan Sasha. Keluarga Raihan dan Sasha menyayangi Moza. Bersama keluarga Raihan dan Sasha, Moza jadi kucing yang lucu juga lincah.
 
Moza punya sifat ingin tahu. Namun, keingintahuan Moza malah menimbulkan huru-hara di dalam rumah. Moza lari dan bersembunyi lantaran takut dimarahi. Seisi rumah sibuk mencari Moza. Namun, Moza tak kunjung ditemukan.
 
Moza masih dalam pencarian ketika keluarga Raihan dan Sasha dikejutkan adanya maling yang masuk rumah. Ternyata bukan maling yang masuk rumah, melainkan hantu! 

Selidik punya selidik, Moza-lah pelaku dibalik keriuhan di malam hari. Perbuatan Moza bikin orang menyangka ada maling masuk rumah. Apa yang diperbuat Moza? tapi, Kalau bukan hantu, kenapa ada sepatu  boot yang berjalan sendiri di dalam rumah, ya?
 

Sepatu Berkucing merupakan buah pena Djokolelono PERTAMA yang SAYA BACA. Padahal, Eyang Djokolelono, demikian beliau akrab disapa oleh para pembaca setianya, telah menerbitkan Pak Gangsir Juru Ramal Istana tahun 1973! Tidak usah merasa tertinggal, karena masing-masing pembaca punya waktu yang tepat untuk membaca buku pilihannya. 

Lepas dari label klasik atau nonklasik, membaca Peter Rabbit, Alice in Wonderland, The Wonderful Wizard of Oz, Heidi, The Three Little Pigs di tahun 2025 bukan berarti kita ketinggalan zaman. Jadi nggak salah sama sekali kalau baru pertama kali baca bukunya Eyang Djokolelono atau membaca buku Eyang Djokolelono yang terbit perdana di tahun 2025.
 
Satu lagi hewan kucing masuk ke dalam cerita anak. Tampaknya kucing menjadi hewan favorit yang dibawa ke ranah fiksi untuk anak-anak. Di dalam cerita fiksi untuk anak-anak, ilustrasi kucing tampak lucu dan menggemaskan. Karakternya dibuat mirip seperti lazimnya hewan kucing atau ditambahkan karakter humanoid. Coba tuliskan di kolom komentar, cerita anak dengan kucing sebagai tokohnya.
 
Cerita Sepatu Berkucing dibuat sederhana, tanpa banyak liku cerita. Moza, si kucing oren, menggerakkan cerita lewat karakternya. Moza digambarkan punya rasa ingin tahu terhadap hal di sekitarnya. Kalau dibilang bandel, bandelnya gara-gara Moza rasa ingin tahunya yang berlebihan. Rasa ingin tahunya yang berlebih menggerakkan Moza meraih tetikus di atas meja belajar Raihan (halaman 6). Dari ilustrasi halaman 7, pembaca bisa melihat betapa rasa penasaran bisa membuat energi Moza demikian besar.

Moza dirawat di dalam keluarga yang ideal: ayah, ibu, anak dua orang; profil keluarga berencana di Indonesia. Karakter masing-masing anggota keluarga digambarkan sebagai figur manusia baik-baik, tidak berkonflik. Keluarga Sasha dan Raihan termasuk keluarga berada, dibuktikan dengan tempat tinggal rumah tapak yang bagus, kepemilikan laptop, ruang tamu yang tampak lega, sofa yang kelihatan empuk, pakaian bagus yang dikenakan oleh masing-masing anggota keluarga serta punya asisten rumah tangga yang dipanggil Bik Ijah. Tidak dijelaskan profesi, usia maupun pendidikan. Pembaca boleh berimajinasi soal profesi ayah dan ibu, usia masing-masing tokoh juga latar belakang pendidikan. 
 
Usai membaca Sepatu Berkucing (Bootsy Puss), Pustaka Siwi berpikir, kok judul Sepatu Berkucing familiar, ya. Mungkinkah Sepatu Berkucing terinspirasi dari Pus the Boots? Di halaman akhir, sih, ada clue yang bisa menjawab pertanyaan Pustaka Siwi (halaman 28). Tapi, baiknya kita tanya Eyang Djokolelono saja.[]
 
 
Salah Satu Halaman Berisi Cerita Sepatu Berkucing